Suara Nusantara.Id — Iran mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari sekaligus menghentikan pertempuran di kawasan Timur Tengah.
Proposal tersebut disampaikan melalui perantara Qatar dalam rangkaian komunikasi antara Teheran dan Washington di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, rencana itu dapat mulai dijalankan setelah Amerika Serikat menyetujui sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran. Jika kesepakatan diterima, pembukaan Selat Hormuz ditargetkan berlangsung pada akhir hari ketujuh.
Syarat Iran untuk Membuka Selat Hormuz
Dalam proposal tersebut, Iran meminta sejumlah langkah dari Amerika Serikat. Di antaranya penghentian blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pelonggaran atau penghapusan sanksi minyak, serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Iran juga menginginkan penghentian pertempuran di berbagai front, termasuk di Lebanon. Setelah situasi tersebut terpenuhi, pembukaan Selat Hormuz akan dilakukan dalam jangka waktu tujuh hari.
Setelah jalur strategis tersebut kembali dibuka, pembicaraan yang lebih luas antara Iran dan AS dapat dilanjutkan, termasuk kemungkinan pembahasan mengenai program nuklir Iran.
Araghchi menyebut proposal terbaru tersebut memiliki kemiripan dengan kesepahaman yang pernah dibuat kedua negara pada Juni lalu. Namun, kesepakatan sebelumnya akhirnya tidak bertahan dan konflik kembali berlanjut.
Trump Dikabarkan Menolak
Di tengah tawaran Iran tersebut, muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump menolak proposal yang diajukan Teheran. (26/9/2026) melaporkan bahwa The Wall Street Journal menyebut Trump telah menolak tawaran Iran dan kepada stafnya mengatakan bahwa kampanye serangan baru terhadap Iran kemungkinan akan dilakukan.
Namun, Investigasi media ini menegaskan belum dapat mengonfirmasi secara independen laporan tersebut. Sementara itu, seorang pejabat AS sebelumnya menyebut komunikasi melalui mediator berlangsung positif dan konstruktif.
Selat Hormuz Jadi Titik Strategis
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling penting dalam konflik Iran-AS. Jalur perairan yang berada di antara Iran dan Oman tersebut merupakan rute strategis bagi pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar dunia.
Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut telah menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan harga minyak global.
Media Suara Nusantara Internasional, melaporkan bahwa AS menginginkan pembahasan mengenai program nuklir Iran masuk dalam negosiasi sejak awal. Sementara Iran sebelumnya menyatakan tidak akan masuk ke pembicaraan yang lebih luas sebelum sejumlah tuntutannya, termasuk pencabutan blokade dan sanksi, dipenuhi.
Di sisi lain, kontak diplomatik antara kedua pihak masih berlangsung melalui mediator. Araghchi sebelumnya bertemu utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dalam pertemuan yang dimediasi Qatar Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pertemuan tersebut belum dapat disebut sebagai sebuah terobosan besar.
Situasi kini masih berkembang.
Iran menunggu respons resmi Washington terhadap proposal tujuh hari tersebut, sementara laporan mengenai sikap Trump menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih menghadapi ketidakpastian.
(Aan/Redaksi/Suara Nusantara.Id)



















