Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Bandar LampungTranding Topik

Viral Bocah SD Cari Rongsokan, Ketua RT Ungkap Fakta Lain: Pemerintah Sudah Berulang Kali Bantu, Orang Tua Akan Diusulkan Jadi Linmas

33
×

Viral Bocah SD Cari Rongsokan, Ketua RT Ungkap Fakta Lain: Pemerintah Sudah Berulang Kali Bantu, Orang Tua Akan Diusulkan Jadi Linmas

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Suara Nusantara.Id, Bandar Lampung — Pemberitaan mengenai seorang bocah yang masih duduk di bangku kelas 2 SDN 1 Kota Baru, Bandar Lampung, dan disebut mencari barang bekas atau rongsokan sepulang sekolah, mendapat perhatian serius dari lingkungan tempat tinggalnya

Namun, di balik kondisi tersebut, ternyata terdapat rangkaian upaya yang selama ini dilakukan pemerintah dan masyarakat setempat untuk membantu keluarga tersebut. Hal itu disampaikan Ketua RT 008 LK I, Kelurahan Enggal, Toto Desi Wirawan, saat ditemui dalam sesi wawancara.

Example 300x600

Toto menegaskan, persoalan keluarga tersebut tidak bisa dilihat hanya dari kondisi sang anak yang terlihat mencari barang bekas. Menurutnya, aparatur lingkungan bersama pihak kelurahan selama ini telah berulang kali melakukan berbagai langkah untuk membantu keluarga tersebut agar memiliki kehidupan yang lebih baik.

“Jangan sampai persoalan ini hanya dilihat dari satu sisi. Kami dari lingkungan, bersama kelurahan, selama ini sudah berupaya membantu. Mulai dari administrasi kependudukan, bantuan sosial, pekerjaan, sampai menawarkan program pendidikan untuk anaknya,” ujar Toto.

Dari Anak Jalanan, Dibantu Miliki Identitas Kependudukan

Toto mengungkapkan, ayah dari anak tersebut, Sagimin, sebelumnya merupakan warga yang pernah hidup di jalanan dan tinggal di sekitar wilayah Enggal.

Menurutnya, karena Sagimin dikenal rajin dan memiliki hubungan baik dengan masyarakat sekitar, pihak RT kemudian berkoordinasi dengan Kelurahan Enggal untuk membantu pengurusan administrasi kependudukannya.

“Dulunya dia anak jalanan dan tinggal di seputaran Enggal. Karena orangnya rajin dan dekat dengan masyarakat, kami koordinasi dengan lurah untuk membantu membuatkan identitas,” ungkapnya.

Proses tersebut, kata Toto, tidak mudah. Namun berkat koordinasi antara lingkungan dan kelurahan, administrasi kependudukan Sagimin akhirnya dapat diselesaikan.

Setelah memiliki identitas kependudukan, keluarga tersebut kemudian dapat diusulkan untuk mengikuti berbagai program bantuan pemerintah.

“Alhamdulillah, pengurusan identitasnya walaupun sangat rumit sudah selesai. Sekarang juga sudah diajukan ke program-program pemerintah. Ada bantuan beras dan bantuan lainnya,” katanya.

Ketua RT Tidak Hanya Menunggu, Orang Tua Akan Diusulkan Jadi Linmas

Tak berhenti pada bantuan sosial, Toto mengatakan pihak RT juga tengah memikirkan solusi yang lebih berkelanjutan agar keluarga tersebut memiliki sumber penghasilan.

Salah satu langkah yang akan diupayakan adalah mengusulkan orang tua anak tersebut untuk menjadi anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas) di lingkungan setempat.

Menurut Toto, langkah tersebut diharapkan dapat memberikan penghasilan sekaligus membuka ruang bagi orang tua anak tersebut untuk memperoleh pekerjaan yang lebih tetap.

“Kami juga akan mengusulkan orang tuanya agar bisa menjadi anggota Linmas. Harapannya nanti ada penghasilan yang bisa menopang kehidupan keluarganya,” jelas Toto.

Menurutnya, upaya tersebut merupakan bentuk perhatian lingkungan yang tidak hanya berhenti pada pemberian bantuan, tetapi juga berusaha mencarikan jalan agar keluarga tersebut mempunyai sumber pendapatan.

“Kalau bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan yang lebih rutin, tentu akan lebih baik. Kami akan berupaya dari lingkungan sesuai dengan kemampuan dan kewenangan yang ada,” tambahnya.

Sagimin Tetap Diberi Kesempatan Bekerja

Toto juga menjelaskan bahwa Sagimin selama ini tidak dibiarkan begitu saja. Ketika terdapat kegiatan di lingkungan, pihak RT bersama masyarakat tetap memberikan kesempatan kepadanya untuk bekerja dan mendapatkan upah.

“Kalau ada kegiatan masyarakat, tetap dilibatkan dan dibantu. Kalau ada pekerjaan, dia juga bekerja dan tetap diupah. Memang anaknya rajin,” ujarnya.

Namun, di sisi lain, Toto mengakui terdapat kebiasaan yang masih sulit ditinggalkan, yakni mencari barang bekas atau memulung.

Menurutnya, kebiasaan tersebut sudah cukup melekat dalam keseharian Sagimin.

“Memang sisi lemahnya ada. Karakter sebagai pemulung itu seperti sudah melekat. Waktu ada kegiatan kelurahan, kami ajak kerja dan kami gaji. Tapi malamnya tetap memulung,” ungkapnya.

Sekolah Rakyat Sudah Ditawarkan Berkali-kali

Persoalan pendidikan anak tersebut juga menjadi perhatian serius pihak lingkungan.

Toto mengungkapkan, pihak kelurahan bersama lingkungan sebenarnya telah beberapa kali menawarkan agar anak tersebut mengikuti program Sekolah Rakyat, yang diharapkan dapat memberikan akses pendidikan dan pembinaan yang lebih baik.

Bahkan, menurut Toto, pihak kelurahan disebut telah turun langsung untuk membujuk keluarga agar bersedia mengikuti program tersebut.

Namun, tawaran itu belum diterima.

“Sudah berkali-kali ditawarkan Sekolah Rakyat. Pak Lurah juga sudah turun langsung. Kami dari lingkungan juga sudah membujuk dan merayu,” katanya.

Dari hasil komunikasi dengan keluarga, Toto menyebut alasan utama belum diterimanya tawaran tersebut adalah adanya kekhawatiran keluarga untuk berpisah dengan sang anak.

“Anaknya sebenarnya bukan tidak diperhatikan. Tetapi ada persoalan keluarga. Neneknya tidak bisa jauh dari anak tersebut. Itu yang menjadi salah satu alasan mereka enggan memasukkan anaknya ke Sekolah Rakyat,” jelasnya.

Menurut Toto, kondisi tersebut perlu dipahami agar publik tidak langsung menyimpulkan bahwa keluarga menolak bantuan pendidikan tanpa alasan.

Ketua RT: Kami Tidak Tinggal Diam

Toto menegaskan bahwa dirinya sebagai Ketua RT tidak ingin persoalan tersebut hanya berhenti pada perdebatan mengenai siapa yang benar atau siapa yang salah.

Menurutnya, yang lebih penting adalah bagaimana kondisi keluarga tersebut dapat diperbaiki secara bertahap.

“Kami tidak tinggal diam. Kami terus berusaha sesuai kemampuan kami. Kalau ada jalan yang bisa kami tempuh, kami tempuh. Kalau ada program pemerintah yang bisa diakses, kami usulkan,” tegasnya.

Ia berharap pemberitaan mengenai kondisi anak tersebut justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat perhatian dan koordinasi berbagai pihak dalam mencari solusi terbaik bagi keluarga tersebut.

“Harapan kami tentu kehidupan mereka bisa lebih baik. Anak bisa sekolah dengan baik, orang tuanya punya penghasilan, dan kebutuhan keluarganya bisa terpenuhi,” katanya.

Toto juga mengajak semua pihak agar tidak hanya melihat persoalan dari apa yang tampak di permukaan.

“Jangan hanya melihat anaknya memulung kemudian dianggap pemerintah tidak hadir. Justru kami dari lingkungan bersama kelurahan sudah berusaha. Tinggal bagaimana semua upaya itu bisa berjalan dan keluarga juga bersedia menerima serta mengikuti program yang ada,” pungkasnya.

Upaya Ketua RT 008 LK I, Kelurahan Enggal, tersebut menunjukkan bahwa penanganan persoalan sosial di tingkat lingkungan tidak selalu cukup hanya dengan bantuan sesaat. Diperlukan pendampingan, komunikasi, akses pekerjaan, pendidikan, serta kemauan bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga yang bersangkutan agar persoalan dapat diselesaikan secara berkelanjutan.

(WB/Tim SN)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *